Penyimpangan Sosial Tawuran Antar Kelompok Pelajar
MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
“PENYIMPANGAN SOSIAL TAWURAN ANTAR KELOMPOK PELAJAR”

Disusun Oleh :
Nuurul Atqiya Wardani
(35116649)
2DB05
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam saya
sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kemurahan-nya makalah
ini dapat saya selesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam makalah ini saya
membahas “tawuran antar pelajar”, suatu pelanggaran yang terjadi di kalangan
remaja saat ini.
Makalah ini dibuat dalam rangka
memperdalam pemahaman tentang penyimpangan sosial tawuran pelajar, apa
penyebabnya dan bagaimana solusinya. Dan juga makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, tetapi penulis tentunya mempunyai tujuan untuk membuat makalah ini
yaitu untuk menjelaskan atau memaparkan poin – poin dimakalah ini, sesuai dengan
pengetahuan kami peroleh dari buku maupun sumber –sumber yang lain. Semoga
semuanya memberikan manfaat bagi kita. Bila ada kesalahan kata-kata atau
penulisan di dalam makalah ini penulis mohon maaf sebesar – besarnya.
Jakarta,
20 juni 2018
Penyusun
Kelompok
Pendidikan Kewarganegaraan
DAFTAR ISI
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat
memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan peristiwa – peristiwa tawuran pelajar
yang saat ini marak terjadi. Tawuran sudah tidak lagi menjadi pemberitaan yang
asing lagi ditelinga kita.Banyaknya tawuran antar pelajar yang terjadi di kota
– kota besar di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dibahas.
Perilaku pelajar yang anarkis berasal dari banyak faktor yang mempengaruhi baik
faktor internal ataupun eksternal. Tawuran pelajar bukan hanya mengakibatkan
kerugian harta benda atau korban cidera tetapi bisa sampai merenggut nyawa
orang lain. Di mata mereka nyawa tidak ada harganya, bahkan mereka merasa
bangga jika berhasil membunuh pelajar sekolah lain yang mereka anggap musuh
mereka. Kekerasan dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan
suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan.
Tawuran antar pelajar semakin menjadi semenjak terciptanya
geng-geng.
Perilaku anarki ini selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat, mereka
sudah tidak merasa kalau perbuatan mereka itu sangat tidak terpuji dan
mengganggu ketenangan masyarakat, sebaliknya mereka merasa bangga jika
masyarakat itu takut dengan geng atau kelompoknya, padahal seorang pelajar
seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu.Pada saat
bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan terjadi
antara mereka dan seringkali mencaci perbuatan mereka tanpa berusaha mencari
solusi yang bijak akan permasalahan tersebut. Memojokkan mereka dari sudut
pandang negatif yang ada, seolah-olah seperti seorang terdakwa yang telah
mendapat vonis hukum, yang dipastikan sebentar lagi akan masuk penjara. Padahal
sebenarnya tidak bisa dikatakan sepenuhnya bahwa kesalahan itu berasal dari
dalam diri atau faktor internal pelajar itu sendiri.
Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi
sangat penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka. Masyarakat
sering tidak peka terhadap respon yang di timbulkan remaja. Sehingga tidak
sedikit remaja mengalami semacam gejolak jiwa yang berupa agresi guna
menunjukkan keberdaan mereka dalam suatu lingkungan.
1.
Apa yang
dimaksud dengan tawuran?
2.
Apa faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar?
3.
Hal apa yang menjadi pemicu tawuran ?
4.
Apa dampak dari
tawuran pelajar ?
5.
Hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar ?
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui :
1.
Agar
khalayak tahu apa itu arti dari tawuran.
2.
Untuk
mengetahui factor – factor menyebab tawuran pelajar.
3.
Agar
masyarakat lebih mengerti tentang pemicu tawuran pelajar.
4.
Untuk
mengetahui apa saja dampak karena tawuran pelajar
5.
Agar
masyarakat lebih mengetahui cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi
tawuranpelajar
Penulisan ini ditujukan kepada seluruh
kalangan masyarakat khususnya para pelajar yang dimana akhir-akhir ini sering
terjadi tawuran antar pelajar.
Tawuran
merupakan perkelahian secara massal yang dilakukan secara ramai-ramai antara
sekelompok pelajar satu dengan pelajar lainnya. Tawuran sudah menjadi mode bagi
pelajar-pelajar, yang menjadi bahan utama tawuran antar pelajar hanya menjadi
gejala sosial yang terdapat pada pelajar perkotaan. Gejala sosial seperti ini
sudah sangat jelas bertentangan dengan norma dan nilai dalam masyarakat.
Tawuran awalnya hanya diawali karena adanya konflik yang terjadi antar satu
sekolah atau konflik antar sekolah, entah itu karena perasaan solidaritas antar
siswa dan sebagainya.
Perkelahian akan menghasilkan konflik
antar siswa dari sekolah yang berlainan. Terkadang siswa yang terpaksa ikut
tawuran karena tidak ingin disebut tidak solidaritas atau tidak setia kawan dan
tidak memiliki keberanian alias penakut. Tawuran antar pelajar merupakan gejala
sosial yang serius, karena peserta tawuran mengabaikan norma yang ada dan
melibatkan korban yang tidak bersalah dan merusak benda yang ada disekitar.
Tawuran menjadi salah satu kegiatan yang turun temurun pada sekolah tertentu.
Tawuran mengakibatkan luka-luka, akibat
dari terkena lemparan batu dari musuh atau terkenan pukulan ikat pinggang dari
salah satu musuh. Karena terjadinya perkelahian yang saling serang menyerang,
maka pada akhirya peserta tawuran akan mendapatkan hukuman dari sekolah, yang
dapat memberikan efek jera bagi pelajar dan bahkan siswa yang mengikuti tawuran
akan dikeluarkan dari sekolah.Apabila tertangkap polisi, dan dianggap akan
membahayakan nyawa maka akan terkena pasal 351 ayat 3 dengan hukuman penjara
selama 7 tahun. Yang paling parah adalah seseorang yangkehilangan nyawa nya
akibat mengikuti tawuran.
1)
Tawuran
pelajar antara dua kelompok pelajar dari sekolah yang berbeda yang mempunyai
rasapermusuhan yang telah terjadi turun-temurun bersifat tradisional.
2)
Tawuran
pelajar antara dua kelompok pelajar. Kelompok yang satu berasaldari satu
sekolah, sedangkan kelompok yang lainnya berasal dari suatu perguruan yang
didalamnyatergabung beberapa jenis sekolah. Permusuhan yang terjadi di antara
dua kelompok ini juga bersifat tradisional.
3)
Tawuran
pelajar antara dua kelompok pelajar dari sekolah yang berbedayang
bersifatinsidental.Perkelahian jenis ini biasanya dipicu situasi dankondisi
tertentu. Misalnya suatu kelompokpelajaryang sedang menaiki bus secara
kebetulan berpapasan dengan kelompok pelajar yang lainnya.Selanjutnya
terjadilah salingejek-mengejek sampai akhirnya terjadi tawuran.
Permasalahan
tawuran memiliki beberapa faktor :
1.
Faktor internal
Remaja yang terlibat
perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan
yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan,
budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama
makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap
orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk
mengatasi apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka
biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang
/ pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat
untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa
mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil,
tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang
kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
2.
Faktor keluarga
Rumah tangga yang
dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak
pada anak. Ketika
meningkat remaja, anak belajar
bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar
kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu
melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak
mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung
dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya
sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor
sekolah
Sekolah pertama-tama
bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu.
Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya.
Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar
(misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan
pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa
lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru
setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling
penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan,
serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan
(walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4. Faktor
lingkungan
Lingkungan di antara
rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap
munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan
anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula
sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan
kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk
belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang
berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
Tawuran yang dilakukan para remaja
pelajar akan sangat memberikan dampak yang buruk bagi para remaja pelaku
tawuran tersebut, dampak buruk ini akan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan
pelaku tawuran, yaitu:
a) Akademis
yaitu Tindakan tawuran akan berdampak buruk bagi para remaja pelajar karena
akan menggangu proses pembelajaran yang sedang para pelaku jalani, jika para
pelajar diketahui menjadi pelaku tawuran maka sekolah akan memberikan hukuman
seperti tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah untuk jangka waktu tertentu
atau para pelaku akan diberikan hukuman seperti dikeluarkan dari sekolah
sehingga tidak dapat melanjutkan sekolahnya kembali.
b) Fisik
yaitu Tawuran dilakukan secara non-verbal dengan tindakan kekerasan dan akan
berdampak buruk bagi para pelaku tawuran yang berkelahi akan menyebabkan cacat
fisik atau luka-luka dan hal ini akan sangat merugikan para remaja yang
seharusnya dapat melakukan berbagai kegiatan menjadi terbatas karena dampak
pada fisik para pelaku tawuran tersebut.
c) Psikologis
yaitu Dampak buruk bagi psikologis para remaja pelaku tawuran adalah pada masa
perkembangan adolescence menuju adult. pembentukan kepribadian di mulai dari
masa adolescene dan hal-hal yang mereka lakukan di masa adolescence akan
membentuk kerpribadian sampai adult, seperti para remaja pelaku tawuran pelajar
diajarkan kebiasaan untuk berkelahi dan menyelesaikan masalah dengan
menggunakan kekerasan maka sampai besar nanti hal itu akan digunakan para
pelaku tawuran pelajar untuk mencapai tujuannya. Proses pembentukan kepribadian
para secara psikologi merupakan pendekatan The behavioral Approach, Menurut
Miltenberger (dikutip dalam King, 2011) mengatakan bahwa the behavioral
approach memiliki tujuan agar manusia dapat menanamkan tindakan yang dilakukan
membantu manusia tersebut dapat menjadi lebih baik. Namun pendekatan behavioral
tidak akan berdampak baik jika hal-hal yang ditanamkan adalah hal negatif. Hal
negatif yang dibiarkan akan menyebabkan kebiasaan yang terbaik di masa depan
maka itu harus ada pengaturan seperti adanya hukuman agar hal negatif yang
terjadi tidak dibiasakan. Jika para remaja terlibat menjadi pelaku tawuran dan
diberikan hukuman akan membantu para remaja pelajar untuk tidak mengulang
tindakan tersebut atau menjadikan kebiasaan dalam kehidupannya.
Tawuran antarpelajar di
Bogor kembali menelan korban jiwa. MRO (16) siswa salah satu SMK di Bogor tewas
setelah terlibat tawuran di Jalan Raya Jampang-Parung, Kampung Hambulu, Desa
Pondok Udik, Kemang, Kabupaten Bogor, Rabu, 18 April 2018 petang kemarin.
Informasi diperoleh
menyebutkan korban tewas setelah dikeroyok kelompok pelajar SMK lainnya saat
hendak pulang sekolah. Buntut aksi tawuran hingga menimbulkan korban meninggal
membuat para pelaku pengeroyokan dijaga ketat petugas kepolisian karena sempat
ada kabar keluarga korban dan rekannya akan melakukan penyerangan.
Kapolsek Kemang Kompol
Ade Yusuf Hidayat menjelaskan, peristiwa nahas itu berawal saat korban bersama
dua rekannya yakni FFN dan BS, hendak pulang sekolah mengendarai satu motor
berboncengan. Di jalan tiba-tiba korban dihadang enam pelajar SMK lainnya yang
mengendarai dua motor."Korban yang saat itu tidak mengetahui apa-apa
sempat melarikan diri namun nahas tertangkap para pelaku. Korban pun dikeroyok
di tengah jalan menggunakan benda tajam berupa celurit," kata Ade pada
Kamis (19/04/2018).
Menurut Ade, korban
menderita luka di dada sebelah kiri, lebam di kepala dan punggung. Sebelum
menghembuskan napas terakhir korban sempat mendapatkan perawatan intensif di
Rumah Sehat Dompet Dhuafa, Parung, Kabupaten Bogor.
Namun, akhirnya korban
meninggal dunia. Sedangkan FFN rekannya juga sempat terkena sabetan benda tajam
dan mengalami luka serius di kepala namun masih sadarkan diri dan saat ini
sedang menjalani perawatan. Ade menuturkan, petugas masih memburu para pelaku
pengeroyokan yang menewaskan korban tersebut. "Saat ini kita sedang dalami
kasus tersebut dan melakukan pengejaran kepada enam pelaku pengeroyokan yang
menimpa tiga pelajar SMK," ucapnya.
(https://metro.sindonews.com/read/1299149/170/tawuran-pelajar-di-bogor-satu-tewas-disabet-celurit-1524122992).
Adapun dampak dari tawuran yang dia rasakan antara
lain adalah dampak positif dan negative.
1.
Dampak PositifSudut Pandang Pelaku
Ø
Merasa puas
apabila mengalahkan lawan pada saat itu
Ø
Diri dan
komunitas dikatakan paling kuat, paling tangguh,paling kompak ,dan paling
disegani oleh pihak lawan apabila lawan telah dikalahkan
Ø
Baik itu
nama sendiri dan komunitas terkenal oleh pihak lawan apabila telah mengalahan
lawan tersebut.
Ø
Bebas
bergerak dan tidak terkekang apabila lawannya telah di kalahkan
Ø
Tidak ada
yang melecehkan lagi
2.
Dampak Negative
Sudut Pandang Masyarakat
Ø
Kalau
ketahuan dari pihak sekolah otomatis kena sanksi yang sangat berat (contohnya
di tampar,di pusap, di telanjangi dan di jemur 1 hari).
Ø
Di marahi
masyarakat karena mungkin meresahkan masyarakat merasa di resahkan
Ø
Di tangkap
polisi.
Ø
Apabila
ketahuan oleh orang tua di asingkan dari keluarga dan menjadi gelandangan.
Ø
Dan yang
paling patal bisa menyebabkan korban jiwa
Berikut
ini saya akan memaparkan beberapa solusi alternatife yang mungkin akan dapat
berguana untuk mengurangi tawauran antar pelajar ini:
1.
Para Siswa wajib
diajarkan dan memahami bahwa semua permasalahan tidak akan selesai
jikapenyelesaiannya dengan menggunakan kekerasan.
2.
Lakukan komunikasi dan
pendekatan secara khusus kepada para pelajar untuk mengajarkan cintakasih.
3.
Pengajaran ilmu
beladiri yang mempunyai prinsip penggunaan untuk menyelamatkan orang danbukan
untuk menyakiti orang lain.
4.
Ajarkan ilmu sosial
Budaya, ilmu sosial budaya sangat bermanfaat untuk pelajar khususnya, yaituagar
tidak salah menempatkan diri di lingkungan masyarakat.
5.
Bagi para orang tua,
mulailah belajar jadi sahabat anak-anaknya. Jangan jadi polisi, hakim atau
orangasing dimata anak. Hal ini sangat penting untuk memasuki dunia mereka dan
mengetahui apa yangsedang mereka pikirkan atau rasakan. Jadi kalau ada masalah
dalam kehidupan mereka orang tua biassegera ikut menyelesaikan dengan bijak dan
dewasa.
6.
Bagi aparat keamanan,
jangan segan dan aneh untuk dekat dengan para pelajar secara professional.
Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidak
lah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena
faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor keluarga,
faktor sekolah, dan faktor lingkungan.Para pelajar yang umumnya masih berusia
remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana
kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran
orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang
anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat
dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan
kepribadian para siswa agar menjadi insan yang lebih baik.Begitupun dalam
mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang
dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa
membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui
keberadaanya.
Dalam
menyikapi masalah remaja terutama tentang tawuran pelajar diatas, penulis
memberikan beberapa saran. Diantaranya :
1)
Keluarga sebagai awal
tempat pendidikan para pelajar harus mampu membentuk pola pikir yang baik untuk
para pelajar.
2)
Masyarakat mesti menyadari
akan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif
3)
Lembaga pendidikan formal
sudah semestinya memberikan pelayanan yang baik untuk membantu para pelajar
mengasah kemampuan dan mengembangkan segala potensi yang ada didalam dirinya
a)
Peningkatan kasus tawuran pelajar membuat KPAI ( Komisi Perlindungan
Anak Indonesiamenyatakan untuk segera mewujudkan “Sekolah Ramah Anak” , agar
tidak semakin merajalelakasustawuran pelajar ini.
b)
Memberi kesempatan pada para remaja untuk beremansipasi dengan cara yang
baik dan sehat.Memberi kesempatan kepada para pelajar untuk mengembangkan
bakatnya masing – masing, sebagaikegiatan untuk mengisi waktu luang dengan hal
yang positif setelah kegiatan belajar di sekolah usai.
Komentar
Posting Komentar